1001527738

Oleh: Tim Redaksi | GILBERT PASALBESSY 

Dipublikasikan: 15 November 2023 |

Seram Bagian Barat, Maluku – Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) mencatatkan tonggak sejarah dengan melaksanakan ekspor perdana komoditas rempah-rempah hasil hutan sosial ke pasar global. Ekspor ini merupakan buah sinergi antara petani, kelompok perhutanan sosial, pemerintah, dan pelaku usaha.

“Pengiriman ekspor perdana ini menunjukkan bahwa kolaborasi kita membuahkan hasil. Ini mampu mendorong petani untuk meningkatkan kualitas produk Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) di Wilayah KPH Seram Bagian Barat sehingga siap bersaing di pasar global,”

tegas Fence Purimahua, SH., S.Hut., M.Si., Kepala UPTD KPH Seram Bagian Barat. Ia berharap volume ekspor berikutnya tumbuh lebih besar dan melibatkan lebih banyak kelompok untuk mendorong ekonomi masyarakat dan mencapai tujuan pembangunan hutan berkelanjutan: masyarakat sejahtera, hutan lestari.

CV Venture Abadi, melalui PT Sinar Hijau Venture (SHV), mengekspor 7 ton lebih rempah asli SBB. Komoditas seperti damar, kopra, cengkeh hutan, dan lontar juga terus didorong untuk menembus pasar ekspor, termasuk China.

Rincian Ekspor Perdana

  • Pala: 5,2 ton
  • Cengkeh: 1,6 ton
  • Vuli (fuli pala): 400 kg
  • Total: 7,2 ton rempah asli SBB

Sekda SBB, Leverne Alvin Tuasuun, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh. “Kami berharap ekspor ini dapat berjalan secara konstan dan bahkan ditingkatkan. Kualitas produk dan rutinitas produksi adalah kunci utama agar pabrik di negara tujuan dapat menerima pasokan secara berkelanjutan, tidak hanya pada musim panen tertentu,” ujarnya. Hal ini, menurutnya, perlu disosialisasikan kepada petani dan koperasi.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Provinsi Maluku. Kadis Perindag Maluku, Yahya Kotta, mengucapkan terima kasih kepada perusahaan yang telah menggagas ekspor ini. “Ini merupakan hasil yang membanggakan karena meningkatkan nilai dan volume ekspor non-migas Maluku, khususnya dari sektor pertanian dan kehutanan. Kami berharap ekspor serupa dapat terus ditingkatkan ke depannya,” tuturnya.

Lebih dari Sekadar Ekspor, Wujudkan Keseimbangan Ekologi dan Ekonomi

Direktur PT Sinar Hijau Venture, Dessy Yuliana, menekankan bahwa perusahaannya tidak hanya berorientasi pada perdagangan. “Kami adalah social enterprise yang bertujuan menciptakan keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kami tidak hanya membeli, tetapi juga memberdayakan masyarakat,” jelas Dessy.

PT SHV, yang telah bekerja di SBB sejak 2022 dengan 11 kelompok usaha, berkomitmen meningkatkan kapasitas petani. “Masyarakat diajarkan untuk mengelola produk, tidak hanya menjual biji pala atau cengkeh, tetapi juga mengolah bagian-bagian lain seperti daging dan kulitnya menjadi produk bernilai tambah,” tambahnya.

Saat ini, PT SHV juga sedang menjajaki pengembangan produk turunan, seperti minyak kenari yang diduga memiliki khasiat sebagai superfood. “Kami bekerja sama dengan universitas untuk membuktikan klaim ilmiah kandungan produk-produk hutan sosial ini,” imbuh Dessy.

Masyarakat Sejahtera, Hutan Lestari

Kepala Balai Perhutanan Sosial, Lilian Komaling, menyambut baik kolaborasi ini. “Kami senang karena ada perusahaan seperti SHV yang tidak hanya bertindak sebagai pembeli, tetapi juga meningkatkan kapasitas masyarakat. Tujuannya agar kesejahteraan masyarakat meningkat, sehingga pada akhirnya mereka punya motivasi untuk melindungi kawasan hutan,” paparnya.

Keberhasilan ekspor perdana ini menjadi titik awal yang kuat. Langkah ini membuktikan bahwa dengan peningkatan mutu, penanganan pascapanen yang baik, dan pemanfaatan potensi lokal, rempah-rempah Maluku tidak hanya mampu menggerakkan ekonomi desa, tetapi juga menjadi penjaga kelestarian hutan. Peluang untuk kolaborasi yang lebih luas dan pengembangan produk bernilai tambah pun terbuka lebar.

 

© 2023 Media Maluku. Seluruh hak cipta dilindungi.

 

About The Author

Tinggalkan Balasan

Verified by MonsterInsights