POST AMBON – Di tengah deru komitmen global menuju hijau, Ambon tak mau tinggal diam. Kota ini sedang berjuang melawan beban sampahnya sendiri, sebuah permasalahan klasik nan pelik yang mengancam pesona “Ambon Manise”. Namun, dari balik tumpukan masalah, sebuah harapan baru muncul. Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, dengan semangat yang terpancar jelas, baru saja memaparkan sebuah peta jalan penuh terobosan di Jakarta. Selasa (18/11/25).
“Kita sedang dalam status darurat sampah,” ungkap Bodewin, mengawali presentasinya dengan fakta yang mencengangkan.
Bayangkan, dari sekitar 256 ton sampah yang dihasilkan warga Ambon setiap harinya, lebih dari 50 ton mengotori lingkungan kita—mencemari laut, menyumbat selokan, dan menggunung di tempat yang tidak semestinya. Hanya sekitar 70% yang sampai ke TPA. Sisanya? Itulah yang kita lihat berserakan, mengancam kesehatan dan keindahan kota.
Fakta Sampah Kota Ambon
256,41 ton – Sampah dihasilkan per hari
180,5 ton – Sampah yang terangkut ke TPA
22,60 ton – Sampah yang masuk fasilitas pengurangan
53,35 ton – Sampah yang terbuang ke lingkungan
Namun, keputusasaan bukanlah pilihan. Dengan penuh keyakinan, sang Wali Kota membeberkan solusi yang dirancang tidak sekadar mengubur masalah, tetapi mengubahnya menjadi berkah. Tahun 2026 mendatang, Ambon berencana membangun sebuah pusat pengolahan sampah modern, yang disebut Material Recovery Facility (MRF). Fasilitas ini bukanlah TPA biasa. Di sini, sampah akan dipilah dengan cermat: yang bisa didaur ulang diselamatkan, yang bisa dijadikan kompos akan diproses.
Lalu, bagaimana dengan sampah yang selama ini dianggap “sisa” dan tidak bernilai? Inilah keajaiban teknologi yang disebut RDF atau Refuse Derived Fuel. Sampah residu itu akan diolah menjadi bahan bakar alternatif pengganti batu bara. “Ini adalah perubahan paradigma. Dari melihat sampah sebagai masalah, menjadi melihatnya sebagai sumber daya,” tutur Bodewin dengan antusias.
Dampaknya pun menjanjikan cahaya di ujung terowongan. Bayangkan, gunungan sampah di TPA Toisapu perlahan akan menyusut. Udara menjadi lebih bersih karena emisi dari pembakaran batu bara dapat dikurangi. Bahkan, geliat ekonomi baru akan tercipta melalui lapangan kerja di sektor pengelolaan sampah dan energi terbarukan.
Target Pengelolaan Sampah Ambon
70% – Pengurangan sampah
30% – Penanganan sampah
100% – Sampah terkelola
0% – Sampah tidak terkelola
Dengan anggaran Rp11 miliar untuk pembangunan dan Rp750 juta per tahun untuk operasionalnya, proyek ini adalah sebuah investasi besar untuk masa depan Ambon. Targetnya ambisius namun jelas: mengurangi 70% sampah, menangani 30%, dan memastikan 100% sampah terkelola dengan baik.
“Impian kita sederhana: tidak ada lagi sampah yang terbuang percuma. Kita wujudkan Ambon yang tidak hanya manis di bibir, tetapi juga bersih, hijau, dan berkelanjutan untuk diwariskan kepada anak cucu,” tegas Bodewin, menutup paparannya dengan sebuah visi yang penuh jiwa.
Perjalanan masih panjang, tetapi langkah pertama menuju “Ambon Ramah Lingkungan” telah digaungkan dengan lantang. Kini, tinggal menunggu aksi nyata untuk mewujudkannya.