Oktober 4, 2026
IMG-20261004-WA0139

POST AMBON   |   Jurnalis: Gilbert Pasalbessy

AMBON — Papan catur akan menjadi salah satu arena yang menguji keseriusan pembinaan olahraga usia dini di Kota Ambon.

Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-88 Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Ambon, sebuah turnamen catur tingkat SD dan SMP se-Kota Ambon dijadwalkan berlangsung pada 15 Oktober 2026 di Pattimura Park.

Sekilas, turnamen tersebut mungkin terlihat sebagai bagian dari rangkaian perayaan hari jadi organisasi olahraga. Namun jika dikelola lebih jauh, kompetisi pelajar itu sebenarnya memiliki arti yang jauh lebih besar: menjadi ruang untuk menemukan calon atlet yang selama ini mungkin belum terpantau.

Catur berbeda dengan sejumlah cabang olahraga lainnya. Pertarungan tidak ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi oleh kemampuan membaca situasi, menyusun strategi, mengendalikan emosi dan mengambil keputusan dalam tekanan.

Karena itu, pertandingan antarpelajar dapat menjadi semacam “ruang uji” untuk melihat karakter calon atlet sejak usia dini.

Di atas papan berukuran 64 kotak, seorang pelajar bukan hanya dituntut memenangkan pertandingan. Ia harus mampu berpikir beberapa langkah ke depan, mengantisipasi lawan, menjaga konsentrasi dan tetap tenang ketika posisi permainan mulai tertekan.

Di situlah nilai penting turnamen ini sebenarnya berada.

Persoalannya kemudian bukan sekadar siapa yang keluar sebagai juara.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah pertandingan berakhir.

Jika pelajar yang menunjukkan kemampuan terbaik hanya membawa pulang piala, sertifikat atau penghargaan, maka turnamen tersebut berisiko berhenti sebagai kegiatan sesaat.

Namun jika peserta dengan potensi menonjol kemudian dipetakan, dipantau dan diberikan kesempatan mengikuti pembinaan secara berkelanjutan, turnamen ini dapat menjadi bagian awal dari sistem pencarian atlet Kota Ambon.

Dari Papan Catur Menuju Pembinaan

Regenerasi atlet tidak dapat dilakukan secara instan.

Seorang atlet yang kelak tampil di tingkat provinsi, nasional bahkan internasional hampir selalu melewati proses panjang. Ia ditemukan ketika masih muda, kemudian dilatih, diuji melalui kompetisi dan dibentuk secara bertahap.

Karena itu, kompetisi pelajar seharusnya tidak dipandang hanya sebagai agenda pertandingan.

Turnamen dapat menjadi pintu pertama bagi proses talent scouting.

Pelatih dan pembina dapat memperoleh gambaran mengenai kemampuan teknis peserta, cara mereka menghadapi kekalahan, keberanian mengambil keputusan, kedisiplinan hingga konsistensi permainan.

Bahkan, seorang peserta yang gagal menjadi juara belum tentu kehilangan peluang menjadi atlet potensial.

Dalam olahraga, proses pencarian bakat tidak selalu identik dengan mencari pemenang. Ada peserta yang mungkin belum memiliki pengalaman bertanding, tetapi menunjukkan kemampuan berpikir dan potensi perkembangan yang besar.

Di sinilah pekerjaan pembinaan sesungguhnya dimulai.

Jangan Berhenti Setelah HUT Selesai

HUT KONI ke-88 seharusnya tidak hanya menjadi momentum perayaan perjalanan organisasi. Momentum tersebut juga dapat digunakan untuk menguji sejauh mana ekosistem olahraga usia dini di Kota Ambon dibangun.

Turnamen 15 Oktober nanti dapat menjadi titik awal.

Setelah itu, perlu ada langkah lanjutan: pendataan peserta potensial, pemetaan kemampuan, pelatihan rutin, agenda pertandingan berikutnya hingga kesempatan tampil pada level yang lebih tinggi.

Sebab, tanpa kesinambungan, kompetisi hanya akan menghasilkan daftar pemenang.

Sebaliknya, dengan pembinaan yang terarah, kompetisi dapat menghasilkan daftar calon atlet masa depan.

Ini pula yang menjadi tantangan bagi kepengurusan KONI Kota Ambon periode 2025–2029.

Publik tentu tidak hanya akan melihat siapa yang menjadi juara pada turnamen tersebut. Publik juga dapat melihat bagaimana para juara dan peserta potensial diperlakukan setelahnya.

Apakah mereka akan kembali ke sekolah dan menunggu kompetisi berikutnya?

Atau justru akan mendapatkan ruang latihan, pelatih, pendampingan dan kesempatan bertanding yang lebih banyak?

Jawaban atas pertanyaan itu akan menjadi ukuran penting apakah turnamen catur pelajar benar-benar memiliki dampak terhadap pembinaan olahraga Kota Ambon.

Catur dan Masa Depan Olahraga Ambon

Memulai pembinaan dari tingkat SD dan SMP merupakan pilihan strategis.

Pada usia tersebut, seorang anak masih memiliki ruang yang panjang untuk berkembang. Kemampuan yang belum sempurna dapat diasah, mental bertanding dapat dibentuk dan pengalaman kompetisi dapat dikumpulkan secara bertahap.

Catur bahkan memiliki keunggulan tersendiri karena proses pembinaannya tidak hanya berbicara mengenai kemampuan bermain, tetapi juga membangun konsentrasi, kesabaran dan kemampuan mengambil keputusan.

Karena itu, pertandingan di Pattimura Park nanti layak dilihat lebih dari sekadar pertandingan perebutan piala.

Di balik papan catur dan jam pertandingan, bisa saja terdapat calon atlet yang beberapa tahun mendatang membawa nama Ambon ke panggung yang lebih besar.

Tetapi untuk sampai ke sana, kemenangan dalam satu turnamen saja tidak cukup.

Bibit harus ditemukan. Potensi harus dipetakan. Kemampuan harus dilatih. Dan yang paling penting, pembinaan harus dijaga secara konsisten.

Sebab prestasi olahraga tidak lahir ketika piala diberikan. Prestasi justru mulai dibangun ketika seseorang melihat potensi seorang anak, lalu memilih untuk tidak membiarkannya berhenti di sana.

POST AMBON
Jurnalis: Gilbert Pasalbessy

About The Author

Tinggalkan Balasan

Verified by MonsterInsights