Wakil walikota Ambon Elly toisuta
”PostAmbon.com — Pemerintah Kota Ambon bergerak cepat menyikapi keresahan masyarakat atas maraknya beras yang tidak sesuai takaran yang dijual di pasaran. Pada Jumat, 19 Juli 2025, Wakil Wali Kota Ambon Ely Toisutta memimpin langsung inspeksi mendadak (sidak) ke kantor Perum Bulog Kanwil Maluku–Maluku Utara. Langkah ini diambil setelah beredar luas laporan warga serta konten viral di media sosial yang menyebutkan bahwa beras dalam kemasan 5 kilogram ternyata memiliki bobot yang lebih ringan.
Dalam keterangannya kepada awak media, Ely Toisutta menegaskan bahwa sidak ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk nyata kehadiran dan tanggung jawab pemerintah kota dalam melindungi hak-hak masyarakat sebagai konsumen.
> ‘”Hari ini kami dari Pemerintah Kota Ambon melakukan sidak ke Perum Bulog untuk memastikan langsung apakah takaran beras 5 kilogram yang beredar di pasaran sudah sesuai. Kami ingin masyarakat tenang dan tahu bahwa pemerintah tidak diam,”‘ ujar Toisutta dengan tegas.
- ”Temuan Mengejutkan: Pedagang Diduga Urai dan Kemasi Ulang Beras Bulog”
Sidak tersebut turut menindaklanjuti hasil penelusuran sebelumnya oleh Satuan Tugas (Satgas) Pangan Provinsi Maluku yang menemukan adanya praktik manipulasi takaran bukan oleh pihak Bulog, melainkan oleh pedagang-pedagang nakal di tingkat pengecer. Para pelaku diduga membeli beras Bulog dalam jumlah besar, lalu membuka kemasan asli dan mengurangi isinya sebelum mengemas ulang dalam karung serupa berlabel 5 kilogram.
Tak tanggung-tanggung, isi beras hasil pengemasan ulang itu ditemukan hanya berkisar antara 4,8 hingga 4,2 kilogram, namun tetap dijual dengan harga dan label resmi 5 kilogram. Praktik ini diduga dilakukan secara sistematis oleh oknum tertentu demi meraup keuntungan lebih besar, namun dengan cara yang jelas merugikan masyarakat.
> ‘”Kami sangat menyayangkan praktik ini. Bulog sudah menyalurkan beras sesuai ketentuan. Tapi saat masuk ke tangan pedagang, justru disalahgunakan. Ini adalah bentuk penipuan terhadap masyarakat,”‘ ujar Ely.
- ”Langkah Lanjut: Pemkot Akan Turun Langsung ke Pasar Tradisional”
Tidak berhenti di tingkat distributor, Pemerintah Kota Ambon berencana untuk melanjutkan langkah investigatif ini dengan menyasar langsung pasar-pasar tradisional tempat beras-beras tersebut dijual. Peninjauan ini bertujuan untuk mengecek langsung kebenaran di lapangan serta memperingatkan para pelaku usaha agar tidak bermain-main dengan distribusi kebutuhan pokok rakyat.
> ‘”Besok kami akan turun langsung ke pasar untuk memverifikasi apakah ada pedagang yang bermain curang. Jika ditemukan, maka tentu akan ada tindakan tegas sesuai aturan yang berlaku,”‘ tegas Toisutta, yang juga merupakan mantan Ketua DPRD Kota Ambon.
Ia pun mengimbau masyarakat agar lebih waspada dalam membeli beras kemasan, khususnya jika harga atau tampilan kemasan tampak mencurigakan. Menurutnya, peran masyarakat sangat penting dalam membantu pemerintah memberantas praktik-praktik curang yang merugikan konsumen.
- ”Ancaman Lain: Ikan Pasar Tradisional Diduga Mengandung Merkuri”
Tak hanya persoalan beras, dalam kesempatan yang sama Ely Toisutta juga menyoroti isu penting lainnya: adanya laporan bahwa ikan-ikan yang dijual di Pasar Arumbae dan beberapa pasar tradisional lainnya di Kota Ambon diduga mengandung merkuri. Temuan ini tentu sangat mengkhawatirkan, mengingat ikan merupakan makanan pokok sehari-hari bagi sebagian besar masyarakat Maluku.
Wakil Wali Kota menyatakan keprihatinannya dan menegaskan bahwa Pemkot akan segera berkoordinasi dengan dinas terkait untuk melakukan uji laboratorium serta memastikan keamanan pangan laut yang dijual di pasar-pasar Ambon.
> ‘”Kami akan beri perhatian khusus terhadap informasi ini. Jika terbukti ada ikan yang tercemar merkuri, maka kami tidak akan tinggal diam. Ini menyangkut keselamatan warga Kota Ambon,”‘ tegas Ely.
- ”Sampah dan Laut: Masalah Klasik yang Kian Mendesak”
Menariknya, Ely juga mengaitkan persoalan ikan bermerkuri dengan masalah kebersihan lingkungan, terutama sampah yang dibuang ke laut secara sembarangan. Ia menilai bahwa pencemaran laut akibat ulah manusia—termasuk pembuangan limbah rumah tangga dan pasar—bisa menjadi salah satu penyebab pencemaran logam berat pada biota laut.
> ‘”Kami minta kerja sama seluruh warga Kota Ambon untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Jangan buang sampah sembarangan, apalagi ke laut. Laut kita adalah kehidupan. Jika tercemar, yang rugi kita sendiri,”‘ ujarnya mengakhiri wawancara.
- ”Penegasan Pemerintah: Jangan Uji Kesabaran Rakyat”
Melalui serangkaian langkah ini, Pemerintah Kota Ambon menegaskan komitmennya dalam menjaga hak-hak masyarakat sebagai konsumen sekaligus melindungi kesehatan publik dan ekosistem laut. Dalam kondisi ekonomi yang semakin menantang, berbagai bentuk penyimpangan, baik dalam perdagangan kebutuhan pokok maupun dalam pengelolaan lingkungan, tidak bisa lagi ditoleransi.
Masyarakat kini menanti tindak lanjut nyata dari Pemkot, apakah para pedagang nakal akan diberi sanksi tegas, dan apakah penanganan ikan bermerkuri akan dilakukan secara transparan. Namun satu hal jelas: pemerintah harus tetap hadir di tengah masyarakat, bukan hanya saat masalah muncul ke permukaan, tapi juga dalam pencegahan sejak dini.
