Kepala Sekolah Helena M. Dequeljoe, S.Pd.,
PostAmbon.com – Ironi sistem zonasi pendidikan terpampang nyata di SD Kristen Kusuh Kusuh Sereh. Sekolah dasar satu-satunya di wilayah ini, yang seharusnya menjadi tumpuan utama warga, justru terancam gulung tikar akibat minimnya minat pendaftaran. Tahun ajaran 2025/2026 ini, dari target minimal 28 siswa yang ditetapkan sistem Dapodik untuk satu rombongan belajar (rombel), baru 12 calon murid yang mendaftar melalui Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) – kekurangan telak 16 anak. Fakta ini memaksa sekolah berjuang keras mempertahankan eksistensinya.
- Nasib di Ujung Tanduk
Kepala Sekolah Helena M. Dequeljoe, S.Pd., menyampaikan kegelisahannya di ruang kerjanya, Jumat (11/7) siang. “Realitas ini pahit. Sebagai satuan pendidikan resmi di bawah zonasi, seharusnya kami menjadi pilihan utama. Kenyataannya, banyak warga justru memilih sekolah di luar wilayah, meski jarak tempuh lebih jauh dan biaya lebih tinggi,” papar DeOstqueljoe. Mayoritas pendaftar (10 anak) berasal dari TK lokal, disertai 2 siswa jalur Ambon homeschooling. Ini merupakan kelanjutan tren negatif; tahun lalu pendaftaran hanya mencapai 17 siswa.
Dengan hanya satu rombel yang dilaporkan di Dapodik, pencapaian kuota 28 siswa bersifat krusial bagi kelangsungan operasional sekolah. Dequeljoe masih berharap ada gelombang pendaftaran akhir: “Kami terus berdoa dan berharap Senin depan masih ada orang tua yang datang mendaftarkan putra-putrinya.”
- Tantangan Berlapis: SDM, Sarana, dan Citra
Perjuangan sekolah tidak hanya soal jumlah siswa. Kualitas pendidikan juga terbentur sejumlah masalah:
1. Kekurangan Guru Spesialis: Sekolah memiliki 9 pendidik (6 guru kelas S.Pd., 1 guru Bahasa Inggris, 2 guru agama). Namun, kekosongan guru olahraga sejak pensiun pengajar sebelumnya belum terisi hingga kini. “Penambahan guru olahraga menjadi kebutuhan mendesak untuk mendukung program kami,” tegas Dequeljoe.
2. Infrastruktur yang Memprihatinkan: Dukungan Dinas Pendidikan Kota melalui bantuan rehabilitasi atap tahun lalu berakhir sia-sia. “Dua minggu pasca-perbaikan, bocor muncul kembali,” ujar Dequeljoe. Bangunan perpustakaan juga mengalami keretakan di bagian belakang, sementara rencana pembangunan laboratorium IT di lahan kosong belakang masih sebatas usulan. Perbaikan kecil seperti toilet masih bisa diatasi dana BOS atau komite, namun kerusakan struktural membutuhkan intervensi pemerintah.
3. Membangun Kembali Kepercayaan: Sekolah berencana menggenjot daya tarik melalui ekstrakurikuler wajib: Bahasa Inggris, Teknologi Informasi, serta pengembangan cabang olahraga unggulan O2SN seperti karate dan renang. Upaya sosialisasi ke orang tua dan penguatan peran komite sekolah menjadi senjata utama untuk mengubah persepsi masyarakat dan mengajak warga “pulang sekolah”.
- Harapan di Tengah Keprihatinan
Di bawah naungan Yayasan YPPK dr. Sitanala, SD Kristen Kusuh Kusuh Sereh berkomitmen mematuhi kebijakan pemerintah dan yayasan. Namun, komitmen butuh dukungan konkret. Dequeljoe menekankan nilai praktis bersekolah di lingkungan sendiri: “Selain efisiensi jarak, memilih sekolah zonasi adalah investasi membangun daerah dan masa depan anak-anak dari akar rumput.”
Nasib sekolah yang terancam ini menjadi cermin tantangan penerapan zonasi di daerah terpencil. Apakah SD Kristen Kusuh Kusuh Sereh akan bertahan, atau hanya menjadi catatan kaki dalam peta pendidikan daerah? Jawabannya bergantung pada respons warga pekan depan dan dukungan nyata pemangku kepentingan terhadap sekolah yang berjuang melawan arus ini.
