Olly Junianty Afitu, S.Pd, selaku Kepala SD Negeri 1 Latihan SPG Ambon
PostAmbon – Langit Ambon siang itu tampak cerah, seolah menyambut kabar baik yang datang bagi dunia pendidikan di kota ini. Bertempat di ruang kerja Kepala Sekolah SD Negeri 1 Latihan SPG Ambon, suasana penuh rasa syukur dan haru menyelimuti wawancara yang berlangsung bersama awak media. Pasalnya, sekolah ini baru saja mendapatkan angin segar berupa bantuan revitalisasi dari salah satu alumni terbaiknya—Mercy Chriesty Barends, anggota DPR RI Komisi X sekaligus Ketua Rumah Aspirasi Mercy Barends.
Dalam keterangannya, Olly Junianty Afitu, S.Pd, selaku Kepala Sekolah, mengungkapkan rasa terima kasih yang begitu dalam atas perhatian tulus dan komitmen kuat dari Mercy Barends terhadap kemajuan pendidikan, khususnya di Provinsi Maluku. Menurutnya, bantuan ini bukan sekadar bantuan fisik, tetapi bentuk nyata kepedulian terhadap masa depan anak-anak bangsa, terutama di daerah yang selama ini sering kali luput dari perhatian.
> “Atas nama seluruh keluarga besar SD Negeri 1 Latihan SPG Ambon, kami menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Ibu Mercy Barends. Beliau bukan hanya datang membawa harapan, tapi hadir langsung ke sekolah ini, menyaksikan sendiri kondisi perpustakaan dan ruang kelas kami yang selama ini sangat memprihatinkan,” ungkap Afitu dengan mata berbinar.
Sekolah yang dulunya menjadi tempat belajar Mercy Barends semasa kecil ini memang tengah menghadapi tantangan serius dalam penyediaan fasilitas belajar yang layak. Banyak ruang kelas yang mengalami kerusakan, cat yang mengelupas, dinding yang retak, serta kondisi perpustakaan yang sudah jauh dari kata nyaman dan kondusif bagi kegiatan literasi siswa. Meski begitu, semangat para guru dan siswa tak pernah surut.
Setelah kunjungan langsung yang dilakukan oleh tim dari Rumah Aspirasi Mercy Barends, sekolah ini pun dinyatakan layak untuk menerima bantuan aspirasi yang bersumber dari anggaran negara melalui jalur DPR RI. Fokus utama bantuan ini diarahkan pada revitalisasi perpustakaan dan perbaikan ruang-ruang kelas yang rusak.
> “Kami merasa sangat bangga karena Ibu Mercy tidak hanya mendengarkan laporan atau membaca proposal, tapi benar-benar hadir, meninjau, berdialog dengan kami, dan melihat langsung bagaimana situasi yang kami alami setiap hari. Ini bukan hal yang sering terjadi,” lanjut Afitu.
Lebih lanjut, Afitu menyampaikan bahwa proses pencairan dan pelaksanaan bantuan tersebut sedang dalam tahap koordinasi bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen). Diharapkan dalam bulan Juli ini, pada minggu kedua hingga keempat, proses tersebut dapat terealisasi dan segera memberi dampak langsung bagi warga sekolah.
> “Kami berharap proses ini berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan berarti. Sebab bantuan ini sangat kami butuhkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang layak dan aman bagi anak-anak,” imbuhnya dengan penuh harap.
Kehadiran Mercy Barends di tengah sekolah ini tidak hanya membawa bantuan fisik, tetapi juga semangat dan inspirasi. Kiprah politikus perempuan asal Maluku ini dinilai sebagai contoh nyata bagaimana posisi strategis di pemerintahan bisa digunakan untuk membangun pendidikan yang inklusif, adil, dan menyentuh langsung akar rumput.
Afitu juga menuturkan bahwa selama beberapa tahun terakhir, pihak sekolah telah berulang kali menyampaikan kebutuhan revitalisasi ini ke berbagai instansi di tingkat daerah, namun belum membuahkan hasil. Oleh karena itu, perhatian dari Mercy Barends ini ibarat sinar harapan baru yang telah lama ditunggu-tunggu.
> “Kami sudah mencoba mengetuk banyak pintu. Tapi baru kali ini benar-benar terbuka. Kami tidak melihat ini sebagai bantuan dari seorang politisi, tapi sebagai kepedulian seorang anak daerah yang tidak lupa pada asalnya,” tuturnya.
Sekolah berharap, inisiatif seperti ini bisa menjadi contoh baik bagi para pemangku kebijakan lainnya, baik di tingkat lokal maupun nasional, untuk ikut berperan aktif membangun fasilitas pendidikan yang layak di daerah-daerah yang membutuhkan.
Langkah Mercy Barends ini sekaligus menunjukkan bahwa membangun pendidikan tidak cukup dengan kata-kata, melainkan dengan aksi nyata yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
