September 29, 2026
b2a90dc1-8baa-4f8f-9c4b-501a156e1d6b

 

OLAHRAGA • ASIAN GAMES 2026

AMBON — GILBERT PASALBESSY

Langkah petinju Indonesia asal Maluku, Maikhel Roberrd Muskitta, di pentas Asian Games XX Aichi-Nagoya 2026 akhirnya terhenti di babak perempatfinal.

Tampil di kelas 80 kilogram putra, Maikhel harus mengakui keunggulan petinju Korea Selatan,
Minseong Kim, dalam pertandingan yang berlangsung di
Nishio Gymnasium, Aichi, Jepang, Minggu (27/9) pagi waktu setempat.

Maikhel kalah dalam penilaian dengan skor 1-4, sekaligus menutup peluangnya melangkah ke semifinal
dan membawa pulang medali dari pesta olahraga terbesar di Asia tersebut.

Perempatfinal • Kelas 80 Kg Putra
Maikhel Muskitta
1
VS
Minseong Kim
4

Kekalahan itu menjadi akhir perjalanan Maikhel setelah sebelumnya tampil meyakinkan pada babak sebelumnya.
Menghadapi petinju tuan rumah Jepang, Kai Toriyabe, Rabu (23/9), Maikhel menang telak
5-0.

Kemenangan tersebut sempat membuka harapan besar bagi Indonesia, khususnya Maluku, bahwa Maikhel mampu
melangkah lebih jauh dan mencatat sejarah baru di panggung Asian Games.

Namun, harapan itu akhirnya kandas di tangan Minseong Kim.

Sebelum pertandingan perempatfinal, Maikhel sempat menyampaikan permintaan dukungan dan doa kepada
masyarakat Indonesia. Ia menyadari laga menghadapi petinju Korea Selatan tersebut menjadi salah satu
ujian terberat dalam perjalanannya di Aichi-Nagoya.

Meski gagal mencapai semifinal, keberhasilan Maikhel menembus delapan besar Asian Games 2026
tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya. Ia telah membawa nama Indonesia sekaligus Maluku
ke panggung kompetisi olahraga terbesar di Asia.

Gagal Menyamai Jejak Legenda Maluku

Perjalanan Maikhel di Aichi-Nagoya juga memiliki dimensi sejarah tersendiri.

Pengamat olahraga Maluku, Rony Samloy, menilai kegagalan Maikhel melaju ke semifinal
membuat petinju tersebut belum mampu menyamai catatan para legenda tinju Indonesia berdarah Maluku
yang lebih dahulu mengukir prestasi di Asian Games.

“

Wiem Gommies adalah legenda tinju asal Maluku dan merupakan satu-satunya petinju Indonesia yang pernah
merebut medali emas di dua gelaran Asian Games, yakni Asian Games VI 1970 Bangkok, Thailand dan
Asian Games VIII 1978 Bangkok.

— Rony Samloy, Pengamat Olahraga Maluku

Gommies ketika itu tampil konsisten di kelas menengah 75 kilogram putra dan berhasil
mempersembahkan emas bagi Indonesia pada dua edisi Asian Games.

Catatan tersebut membuat nama Wim Gommies menempati posisi penting dalam sejarah tinju Indonesia,
khususnya bagi Maluku yang dikenal telah melahirkan sejumlah petinju berprestasi di pentas internasional.

Selain Gommies, terdapat pula nama Frans Soplanit dan Welem Papilaya
yang pernah menyumbangkan medali perak bagi Indonesia.

Frans Soplanit meraih medali perak kelas bantam 54 kilogram putra ketika Indonesia
menjadi tuan rumah Asian Games IV tahun 1962.

Sementara Welem Papilaya menyabet medali perak kelas 75 kilogram putra pada
Asian Games XIII 1998 di Bangkok.

Rony Samloy: “Frans Soplanit yang tampil di kelas bantam/54 kg putra meraih perak
di saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games ke-4 tahun 1962, sedangkan Welem Papilaya juga
menyabet perak kelas 75 kg putra di Asian Games XIII 1998 Bangkok.”

Jejak Panjang Petinju Indonesia di Asian Games

Menurut Samloy, sejarah tinju Indonesia di Asian Games juga mencatat sejumlah nama lain yang berhasil
menyumbangkan medali bagi kontingen Merah Putih.

Di bawah capaian Willem Gommies, terdapat Pino Bahari, petinju asal Bali yang merebut
medali emas kelas menengah pada Asian Games XI 1990 di Beijing, China.

Untuk medali perak, selain Frans Soplanit dan Welem Papilaya, tercatat nama
Paruhum Siregar, Idwan Anwar, Said Fidal,
Johny Riberu, Adrianus Taroreh, dan Hermensen Ballo.

Sementara untuk medali perunggu, sejarah mencatat nama Johny Bolang,
Fery Moniaga, serta Hermensen Ballo.

Catatan Prestasi Tinju Indonesia di Asian Games

Willem “Wim” Gommies
Emas — Asian Games 1970 & 1978
Pino Bahari
Emas — Asian Games 1990
Frans Soplanit
Perak — Asian Games 1962
Welem Papilaya
Perak — Asian Games 1998

“Jadi sejak keikutsertaan Indonesia di Asian Games I 1951 New Delhi, India, hingga Asian Games XX
Aichi-Nagoya, Jepang, tercatat baru dua petinju Indonesia yang sukses merebut emas yakni Willem Gommies
dan Pino Bahari,” kata Samloy.

Ia juga mencatat bahwa baru dua petinju Indonesia yang mampu merebut medali dalam dua edisi Asian Games,
yakni Willem Gommies dan Hermensen Ballo.

Maikhel dan Harapan Baru dari Maluku

Kandasnya perjuangan Maikhel di perempatfinal tentu menyisakan kekecewaan karena peluang untuk
memperpanjang tradisi prestasi petinju Maluku di Asian Games harus berakhir di babak delapan besar.

Namun, perjalanan Maikhel di Aichi-Nagoya tidak berhenti sebagai catatan kekalahan semata.

Menembus perempatfinal Asian Games merupakan pencapaian yang menempatkannya dalam panggung kompetisi
elite Asia. Ia telah melewati satu pertandingan dengan kemenangan mutlak dan kemudian memberikan
perlawanan sebelum akhirnya dihentikan Minseong Kim.

Kini, sejarah kembali mencatat satu nama dari Maluku di arena Asian Games.

Maikhel Muskitta memang belum mampu menyamai emas Willem Gommies, perak Frans Soplanit maupun
perak Welem Papilaya. Namun, perjalanannya di Aichi-Nagoya 2026 menambah satu halaman baru
dalam panjangnya sejarah tinju Maluku di pentas Asia.

Dan bagi generasi berikutnya, jejak itu masih terbuka untuk dilanjutkan.

POST AMBON
Informasi • Olahraga • Maluku

About The Author

Tinggalkan Balasan

Verified by MonsterInsights