Oktober 19, 2026
WhatsApp Image 2026-10-05 at 12.22.23

konfilk aru

 

Ajakan tersebut disampaikan Kaidel dalam prosesi adat Urlima yang menjadi bagian dari penutup rangkaian perdamaian antara masyarakat Desa Kalar-Kalar dan Desa Salarem. Prosesi berlangsung di Lapangan Apel Kantor Bupati Kepulauan Aru, Sabtu (4/7/2026).

Menurut Kaidel, berakhirnya perselisihan yang berlangsung sejak April 2026 menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk kembali membangun hubungan yang harmonis. Proses penyelesaian konflik tersebut sebelumnya telah melalui sejumlah tahapan mediasi selama kurang lebih tiga bulan.

Ia menilai persoalan yang berkembang di antara kedua kelompok masyarakat tersebut tidak seharusnya berubah menjadi konflik yang melibatkan banyak orang. Kesalahpahaman dan provokasi, menurutnya, dapat memperbesar persoalan apabila masyarakat tidak mampu menahan diri.

“Hari ini seluruh masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru mengatakan sudah cukup. Kecurigaan harus dihentikan dan jangan lagi mudah terprovokasi,” kata Kaidel.

Bupati juga mengingatkan agar persoalan yang bersifat pribadi tidak dibawa ke tingkat kampung atau desa. Ia menegaskan, masalah yang melibatkan satu atau beberapa orang tidak semestinya menyeret seluruh masyarakat ke dalam pertikaian.

“Kalau ada persoalan pribadi, jangan membawa nama kampung. Jangan karena satu orang seluruh desa ikut bertikai,” tegasnya.

Kaidel turut menekankan pentingnya mempertahankan nilai-nilai adat sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Aru. Menurut dia, adat bukan hanya warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menyelesaikan persoalan dan menjaga hubungan persaudaraan.

“Adat kita masih hidup dan harus menjadi jalan penyelesaian setiap persoalan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Kaidel juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru karena konflik yang terjadi sempat berdampak terhadap aktivitas sosial masyarakat.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru dan kedua desa yang bertikai, saya menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat. Semoga ini menjadi pelajaran agar setiap persoalan diselesaikan melalui adat, musyawarah, dan semangat kekeluargaan,” ungkapnya.

Rangkaian perdamaian kemudian ditutup dengan doa bersama yang melibatkan lintas agama serta jamuan makan bersama.

Momentum tersebut menjadi penanda berakhirnya perselisihan antara masyarakat Kalar-Kalar dan Salarem. Kedua pihak diharapkan kembali menjalani kehidupan bersama dengan mengedepankan keamanan, persaudaraan, serta semangat kekeluargaan.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Verified by MonsterInsights