April 27, 2026
oplus_32

oplus_32

POST AMBON — Cakupan imunisasi anak di Kota Ambon masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan akses layanan hingga faktor kepercayaan masyarakat. Untuk menjawab persoalan tersebut, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Maluku bersama Institute for Medical Research and Education Universitas Indonesia memperkuat kolaborasi riset guna merumuskan strategi peningkatan imunisasi yang lebih tepat sasaran.

Kolaborasi ini diwujudkan melalui penelitian bertajuk UNDERVAC-ID yang secara khusus menyoroti kelompok anak dengan status imunisasi tidak lengkap maupun yang belum pernah menerima imunisasi sama sekali. Penelitian ini menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk mengidentifikasi akar masalah secara komprehensif. Jumat (24/04/26)

Direktur Poltekkes Kemenkes Maluku, Dr. Betty A. Sahertian, menyatakan bahwa persoalan imunisasi di wilayah kepulauan seperti Maluku tidak bisa dilihat semata dari aspek layanan kesehatan.

“Ini bukan hanya soal ketersediaan vaksin, tetapi juga berkaitan dengan pemahaman keluarga, kepercayaan masyarakat, serta kondisi geografis yang menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya dalam lokakarya yang digelar pada 23–24 April 2026.

Penelitian yang telah dilakukan sepanjang 2025 oleh tim yang dipimpin Dr. Saidah Rauf menemukan bahwa hambatan imunisasi di Ambon bersifat multidimensi. Selain faktor akses di wilayah terpencil, rendahnya literasi kesehatan dan persepsi masyarakat terhadap imunisasi masih menjadi kendala signifikan.

Hasil kajian tersebut kemudian dibahas dalam forum lokakarya partisipatif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah Kota Ambon, DPRD, Dinas Kesehatan, unsur TNI/Polri, tokoh agama, hingga organisasi profesi. Forum ini menjadi ruang untuk menyelaraskan temuan riset dengan realitas lapangan.

Melalui forum tersebut, disusun rencana aksi daerah yang lebih terarah, dengan fokus pada peningkatan jangkauan layanan, penguatan edukasi masyarakat, serta optimalisasi peran tenaga kesehatan di tingkat akar rumput.

Betty menekankan bahwa pendekatan kolaboratif menjadi kunci dalam mengatasi persoalan imunisasi. Menurutnya, intervensi yang dilakukan secara terpisah tidak akan menghasilkan dampak signifikan tanpa koordinasi lintas sektor.

“Dibutuhkan kerja bersama yang terstruktur dan berkelanjutan agar setiap kebijakan yang dihasilkan benar-benar dapat diimplementasikan hingga ke tingkat desa,” katanya.

Sebagai institusi pendidikan kesehatan, Poltekkes Maluku juga berperan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten di bidang kebidanan, keperawatan, gizi, sanitasi, dan teknologi kesehatan. Tenaga kesehatan ini diharapkan menjadi ujung tombak dalam pelaksanaan program imunisasi di lapangan.

Selain itu, penguatan sistem juga dilakukan melalui pengembangan jaringan kerja berbasis kolaborasi yang mendukung efektivitas program imunisasi, termasuk dalam hal distribusi informasi dan koordinasi antar pihak.

Upaya peningkatan cakupan imunisasi juga diarahkan pada pendekatan berbasis masyarakat. Edukasi publik terus digencarkan untuk meningkatkan pemahaman orang tua terhadap pentingnya imunisasi dalam mencegah penyakit pada anak.

Dengan mengusung nilai “Rumah Basudara”, Poltekkes Maluku menekankan pentingnya semangat kebersamaan dalam menyelesaikan persoalan kesehatan. Pendekatan ini diharapkan mampu membangun kepercayaan masyarakat sekaligus memperkuat partisipasi dalam program imunisasi.

Ke depan, hasil riset UNDERVAC-ID ditargetkan tidak hanya berhenti sebagai kajian akademik, tetapi menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan yang aplikatif. Implementasi kebijakan tersebut diharapkan mampu meningkatkan cakupan imunisasi anak secara signifikan dan berkelanjutan di wilayah Ambon dan sekitarnya

About The Author

Tinggalkan Balasan

Verified by MonsterInsights