Juli 14, 2026
IMG_4848

Setelah melalui berbagai upaya mediasi dan pendekatan yang panjang, lembaran baru akhirnya terbuka bagi Desa Kalar-Kalar dan Desa Salarem. Di halaman Kantor Bupati Kabupaten Kepulauan Aru, Sabtu (4/7/2026), kedua desa sepakat mengakhiri konflik dan kembali merajut persaudaraan dalam sebuah ikrar damai yang penuh makna.

Perdamaian ini menjadi puncak dari kerja keras Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru bersama seluruh elemen masyarakat dalam menghadirkan solusi yang mengedepankan nilai-nilai adat, kemanusiaan, dan persaudaraan.

Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, yang memimpin langsung prosesi perdamaian, menyampaikan bahwa momen tersebut bukan sekadar penyelesaian konflik, melainkan kemenangan bagi nilai-nilai adat dan persatuan masyarakat Aru.

“Lehur tersenyum. Kita wajib menghargai proses ini. Sebagai orang adat, orang yang beradab, kita wajib menghargai perdamaian yang telah lahir hari ini,” ujar Bupati di hadapan para tokoh dan masyarakat yang hadir.

Dengan penuh ketulusan, Bupati Kaidel mengingatkan bahwa dirinya adalah orang tua bagi seluruh masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru. Karena itu, ia tidak ingin lagi melihat anak-anaknya terpecah akibat persoalan yang seharusnya dapat diselesaikan dengan musyawarah.

“Saya sebagai bupati adalah orang tua bagi semua. Saya berharap tidak boleh lagi terjadi konflik antar kampung, apalagi hanya dipicu persoalan pribadi yang kemudian menyeret masyarakat luas. Mari kita jaga persaudaraan yang telah diwariskan oleh para leluhur,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan perdamaian ini sebagai awal baru dalam membangun Kabupaten Kepulauan Aru yang aman, rukun, dan harmonis. Menurutnya, perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling bermusuhan, melainkan menjadi kekuatan dalam membangun daerah.

Prosesi perdamaian tersebut disaksikan oleh Wakil Bupati Kepulauan Aru, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta tokoh pemuda. Kehadiran seluruh elemen itu menjadi simbol kuat bahwa menjaga kedamaian merupakan tanggung jawab bersama.

Hari itu, bukan hanya dua desa yang berdamai. Harapan masyarakat Kepulauan Aru untuk hidup dalam suasana aman, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan kembali diteguhkan. Perdamaian Kalar-Kalar dan Salarem menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun konflik yang terjadi, selalu ada jalan pulang menuju persatuan ketika semua pihak memilih mengedepankan hati nurani dan kebijaksanaan.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Verified by MonsterInsights