Sabtu lalu, institusi bersejarah itu akhirnya menerima kunjungan yang selama ini dinantikan. Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menyempatkan diri hadir di tengah padatnya agenda kunjungan kerja ke Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual. Kehadirannya bukan tanpa makna. Di sela-sela menghadiri Festival Meti Kei, mengikuti upacara adat teripang di Warabal dan Jemaatahar, serta membuka Sidang MPL Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) di Kota Tual, Gubernur memilih menyisihkan waktu untuk melihat langsung denyut pendidikan di Seminari Langgur. Jum’at (23/10/26)
Sebuah Pengakuan atas Jejak Panjang
Sejak didirikan pada 1949, Seminari Langgur telah menjadi ladang persemaian generasi. Ribuan lulusan telah dihasilkan, sebagian besar dipersiapkan untuk mengabdi sebagai pastor atau imam dalam Gereja Katolik. Namun kontribusinya tidak berhenti di ranah keagamaan. Banyak alumni yang kemudian berkiprah di dunia pemerintahan, sektor swasta, dunia pendidikan, hingga berbagai bidang kehidupan masyarakat lainnya. Mereka tersebar, membawa nama Langgur dan Maluku ke berbagai penjuru.
Bagi Gubernur Hendrik Lewerissa, kehadiran di sekolah tersebut adalah momen yang membanggakan. Ia menilai Seminari Langgur memiliki sejarah panjang dan kontribusi penting dalam mencetak generasi Maluku yang berkarakter dan berdaya saing. Dalam pandangannya, sekolah ini adalah bukti bahwa pendidikan yang berakar pada nilai dan sejarah mampu bertahan melampaui zaman.
“Kunjungan ini menjadi momen istimewa bagi kami. Sekolah ini telah berdiri sejak 1949 dan telah melahirkan ribuan lulusan yang berkiprah di berbagai bidang,” ungkap Gubernur saat meninjau sejumlah ruang belajar dan bangunan sekolah.
Revitalisasi yang Menyentuh Akar Pendidikan
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur tidak hanya berdialog dengan pihak sekolah, tetapi juga menelusuri langsung fasilitas pendidikan yang ada. Ia meninjau sejumlah ruang belajar dan bangunan sekolah yang mendapatkan dukungan melalui program revitalisasi satuan pendidikan dari pemerintah pusat. Program tersebut dilaksanakan melalui koordinasi dan kerja sama yang erat antara pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten/kota.
Revitalisasi ini menjadi penting bukan hanya dari sisi fisik bangunan, tetapi juga sebagai simbol bahwa negara hadir di tengah institusi pendidikan yang telah lama berakar dalam sejarah masyarakat Maluku. Seminari Langgur, dengan segala keterbatasan dan keunikannya sebagai sekolah berasrama, tetap layak mendapatkan perhatian dan dukungan.
Lebih dari Sekadar Kunjungan
Kunjungan Gubernur ke Seminari Langgur pada akhirnya bukan sekadar agenda seremonial. Ia menjadi penanda bahwa di tengah hiruk-pikuk pembangunan infrastruktur dan agenda pemerintahan, perhatian terhadap pendidikan yang telah berakar kuat dalam sejarah Maluku tetap mendapat tempat. Sekolah yang telah berdiri 77 tahun ini bukan hanya kebanggaan warga Langgur, tetapi juga kebanggaan seluruh Maluku.
Ke depan, harapan pun mengemuka. Dengan dukungan pemerintah, Seminari Langgur diharapkan terus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara karakter dan spiritual. Sebab dari Langgur, Maluku telah lama belajar tentang arti pengabdian dan pendidikan yang mencerahkan.
Di usia 77 tahun, Seminari Langgur membuktikan satu hal: institusi pendidikan yang berakar pada nilai dan sejarah tidak akan pernah kehilangan relevansinya. Ia akan terus berdiri, menempa generasi, dan menjadi cahaya bagi Maluku.
