POST AMBON — Nama Maluku tidak hanya hadir dalam catatan sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga pernah terukir dalam perjalanan panjang olahraga Indonesia di pentas Asia.
Menurut Samloy, dalam rentang hampir dua dekade tersebut setidaknya terdapat lima atlet nasional berdarah Maluku yang ikut menyumbangkan medali bagi kontingen Indonesia melalui cabang atletik.
“Sejak Asian Games 1951 sampai dengan Asian Games 1970 itu setidaknya ada lima atlet nasional berdarah Maluku yang ikut menyumbangkan medali bagi kontingen Indonesia,” ujar Samloy di Ambon, Rabu (30/9/2026).
Dari New Delhi, Jejak Itu Dimulai
Catatan tersebut bermula dari Asian Games I New Delhi 1951. Dua nama berdarah Maluku muncul dalam daftar peraih medali Indonesia, yakni Abraham F. Matulessy dan Ani Salamun.
Abraham F. Matulessy berhasil mempersembahkan medali perunggu nomor lempar lembing putra, sementara Ani Salamun merebut perunggu nomor lempar cakram putri.
Bagi Samloy, capaian tersebut bukan sekadar angka dalam tabel perolehan medali. Kehadiran kedua atlet itu menjadi bagian dari fondasi awal keterlibatan atlet-atlet berdarah Maluku dalam sejarah olahraga Indonesia di tingkat Asia.
“Pak Abraham meraih perunggu di nomor lempar lembing putra, sedangkan Ibu Ani merebut perunggu di nomor lempar cakram putri,” jelasnya.
Jakarta 1962: Dua Nama, Tiga Medali
Sebelas tahun kemudian, panggung Asian Games kembali memperlihatkan kontribusi atlet berdarah Maluku.
Saat Asian Games IV 1962 di Jakarta, ketika Indonesia untuk pertama kalinya dipercaya menjadi tuan rumah, muncul nama Johanes Awang Papilaya dan Willy Tomasoa.
Johanes Awang Papilaya mencatat prestasi istimewa dengan mempersembahkan dua medali perunggu, masing-masing dari nomor lompat jauh dan lompat jangkit putra.
Sementara itu, Willy Tomasoa menjadi bagian dari tim estafet putri Indonesia bersama Soeratmi, Ernawati, dan Wiewiek Machwijar. Kuartet tersebut berhasil meraih medali perunggu nomor 4×100 meter putri.
“Di Asian Games 1962, ketika untuk pertama kalinya Indonesia menjadi tuan rumah, Pak Johanes Awang Papilaya sukses mempersembahkan dua medali perunggu untuk Indonesia, masing-masing di nomor lompat jauh dan lompat jangkit putra. Sedangkan Ibu Willy Tomasoa bersama Soeratmi, Ernawati dan Wiewiek Machwijar berhasil merebut perunggu nomor lari estafet 4×100 meter putri,” tutur Samloy.
Carolina Rieuwpassa dan Dua Perunggu dari Lintasan
Nama lain yang turut mempertegas jejak atlet berdarah Maluku adalah Carolina Rieuwpassa.
Di arena atletik, Rieuwpassa sukses mengamankan dua medali perunggu, masing-masing dari nomor lari 100 meter dan 200 meter putri.
Prestasi tersebut sekaligus menempatkan Rieuwpassa dalam catatan khusus bersama Johanes Awang Papilaya sebagai atlet berdarah Maluku yang mampu meraih lebih dari satu medali dalam rangkaian Asian Games pada periode tersebut.
“Dari cabang atletik Asian Games sejak 1951 hingga 1970, hanya dua atlet berdarah Maluku yang sukses merebut dua medali, sekalipun semuanya perunggu, yakni Johanes Awang Papilaya di nomor lompat dan Carolina Rieuwpassa di nomor lari jarak pendek,” kata Samloy.
Bukan Sekadar Medali, Ada Sejarah yang Perlu Diingat
Menariknya, catatan sejarah tersebut juga menunjukkan bahwa identitas kultural dan garis keturunan tidak selalu berbanding lurus dengan tempat kelahiran.
Johanes Awang Papilaya, misalnya, lahir di Aceh, sedangkan Carolina Rieuwpassa lahir di Makassar yang pada masa itu dikenal sebagai Ujung Pandang.
Namun, jejak keturunan dan kontribusi mereka tetap menjadi bagian dari narasi panjang atlet berdarah Maluku yang pernah mengharumkan nama Indonesia di arena olahraga Asia.
Bagi Samloy, kisah tersebut layak kembali diangkat agar generasi olahraga Maluku tidak hanya mengenal prestasi atlet masa kini, tetapi juga memahami bahwa jauh sebelum era olahraga profesional berkembang seperti sekarang, sudah ada putra-putri berdarah Maluku yang berjuang di lintasan dan arena untuk membawa nama Indonesia.
“Catatan sejarah seperti ini penting untuk dibuka kembali, bukan hanya untuk mengenang siapa yang pernah meraih medali, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa atlet-atlet berdarah Maluku telah memiliki jejak panjang dalam perjalanan prestasi olahraga Indonesia di tingkat Asia,” pungkasnya.
(ROHZAH)
