Kepala Sekolah SMA Pertiwi Julianus J. Kolaborasi, SE, M.Pd
PostAmbon.com – Di tengah hiruk-pikuk modernisasi pendidikan Indonesia, sebuah institusi pendidikan berusia puluhan tahun di Kota Ambon tengah menghadapi dilema yang memprihatinkan. SMA Pertiwi Ambon, sekolah yang telah berkontribusi melahirkan generasi penerus bangsa, kini terancam kehilangan eksistensinya akibat minimnya peminat dan kondisi infrastruktur yang memprihatinkan.
- Paradoks Sistem Pendidikan Modern
Data mengejutkan terungkap dalam wawancara eksklusif dengan Julianus J. Kolaborasi, SE, M.Pd, Kepala Sekolah SMA Pertiwi Ambon. Dari target 4 rombongan belajar yang direncanakan untuk tahun ajaran 2025/2026, realitas menunjukkan angka yang jauh dari harapan – hanya 27 siswa yang benar-benar terdaftar.
“Ini bukan sekadar masalah angka, tetapi cerminan dari sistem yang belum sempurna,” ungkap Kolaborasi saat ditemui di ruang kerjanya yang sederhana, Jumat (11/7) kemarin.
Fenomena ini mencerminkan kelemahan mendasar dalam sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang memungkinkan calon siswa mendaftar di multiple sekolah secara bersamaan. Akibatnya, terjadi distribusi yang tidak merata – sebagian sekolah kelebihan peminat, sementara yang lain justru kekuranga
- Ironi Tenaga Pendidik Berkualitas
Paradoks lain terungkap ketika melihat kualitas sumber daya manusia di SMA Pertiwi. Dengan 33 tenaga pendidik dan kependidikan – terdiri dari 27 guru dan pegawai yayasan plus 6 guru berstatus PNS – sekolah ini sebenarnya memiliki rasio guru yang ideal.
“Secara kapasitas, kami siap menampung hingga 4 rombel siswa baru. Namun kenyataannya, distribusi siswa tidak merata,” jelas Dra. Selfia Huwae, M.Pd, Ketua Panitia Penerimaan.
Struktur kelas saat ini menunjukkan ketidakseimbangan yang mencolok: satu rombel kelas X, dua rombel kelas XI, dan dua rombel kelas XII. Kondisi ini menggambarkan tren penurunan peminat yang konsisten.
- Bangunan Bersejarah yang Terabaikan
Lebih mengkhawatirkan lagi adalah kondisi fisik sekolah yang telah berusia puluhan tahun. Meski dari luar tampak masih layak, investigasi mendalam mengungkap kerusakan struktural yang mengkhawatirkan.
Lantai dua bangunan mengalami kerusakan parah dengan kayu-kayu penyangga yang telah lapuk. Beberapa bagian atap hilang, menyebabkan air hujan merembes ke ruang kelas, perpustakaan, dan laboratorium – fasilitas vital untuk proses pembelajaran.
- “Kondisi ini sangat mengganggu aktivitas belajar-mengajar, terutama saat musim hujan,” keluh Kolaborasi.
Ironinya, usulan perbaikan telah diajukan melalui sistem Dapodik sejak 2023. Tim dari Kementerian PUPR bahkan telah melakukan survei langsung dan menyatakan kondisi bangunan mengalami kerusakan berat. Namun hingga kini, tidak ada tindak lanjut konkret.
- Tantangan Sekolah Swasta di Era Modern
Sebagai sekolah swasta, SMA Pertiwi menghadapi keterbatasan anggaran yang signifikan. Ketergantungan pada iuran siswa dan bantuan terbatas dari yayasan membuat renovasi besar-besaran menjadi mimpi yang sulit diwujudkan.
“Status swasta seringkali membuat kami terlupakan dalam program-program pemerintah,” ungkap Kolaborasi dengan nada prihatin.
- Harapan di Tengah Keterbatasan
Meski menghadapi berbagai tantangan, semangat para pendidik di SMA Pertiwi tidak pernah surut. Komitmen untuk memberikan pendidikan berkualitas tetap menjadi prioritas utama.
“Fisik sekolah boleh rusak, tetapi semangat kami untuk mendidik tidak akan pernah padam,” tegas Kolaborasi dengan mata berbinar.
Harapan besar kini tertuju pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku untuk memberikan solusi komprehensif. Tidak hanya dalam hal distribusi siswa yang merata, tetapi juga realisasi renovasi bangunan yang telah lama diusulkan.
- Refleksi Pemerataan Pendidikan
Kasus SMA Pertiwi Ambon menjadi cerminan kondisi pendidikan di Indonesia yang masih timpang. Di satu sisi, beberapa sekolah favorit kelebihan peminat, sementara institusi pendidikan lain justru terancam tutup karena kekurangan siswa.
“Semoga suara dari sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan siswa dan keterbatasan fasilitas ini dapat didengar dan segera ditindaklanjuti, demi masa depan pendidikan yang lebih merata dan berkualitas,” pungkas Kolaborasi dengan penuh harap.
Pertanyaan yang tersisa adalah: apakah sistem pendidikan kita sudah cukup adil dalam memberikan kesempatan yang samabagi semua institusi pendidikan untuk berkembang?
