Post Ambon.com – Kota Ambon memasuki momen penting sehari sebelum peringatan Hari Ulang Tahun ke-450. Sabtu (6/9), Balai Kota Ambon menjadi saksi pengukuhan gelar adat oleh Majelis Latupati Kota Ambon. Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, resmi dikukuhkan sebagai Upulatu Kota Ambon, sementara Wakil Wali Kota, Ely Toisuta, menerima gelar Pati Kota Ambon.
Upacara adat berlangsung dengan khidmat. Para raja negeri, pengurus Majelis Latupati, pimpinan DPRD Kota Ambon, unsur Forkopimda, pimpinan OPD, dan tokoh masyarakat hadir untuk menyaksikan prosesi sakral ini. Kehadiran berbagai elemen mempertegas bahwa gelar adat bukan sekadar tradisi, melainkan simbol legitimasi budaya bagi kepemimpinan di Ambon.
Makna Gelar Upulatu dan Pati
Dalam struktur adat Maluku, gelar Upulatu disematkan pada pemimpin yang dianggap mampu menjaga nilai, norma, serta harmoni dalam masyarakat. Gelar ini tidak diberikan sembarangan, melainkan melalui proses musyawarah adat oleh Majelis Latupati. Sementara itu, gelar Pati merupakan posisi strategis yang mendampingi Upulatu, sekaligus menjadi penghubung antara pemimpin dan rakyat.
Dengan pengukuhan ini, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ambon tidak hanya berperan sebagai pejabat pemerintahan, tetapi juga pemimpin adat yang memikul tanggung jawab moral dan budaya.
Pesan Wali Kota: Gelar Adat Bukan Simbol Semata
Dalam sambutannya, Bodewin Wattimena menegaskan bahwa gelar adat bukan penghormatan pribadi, melainkan amanah besar.
“Ini bukan soal gelar, bukan soal penghargaan. Ini tentang tanggung jawab menjaga tatanan adat dan budaya yang sudah diwariskan sejak lama,” ujarnya.
Wattimena menilai banyak warisan budaya di Ambon dan Maluku yang perlahan memudar. Mulai dari bahasa daerah yang jarang digunakan generasi muda, hingga pranata adat yang mulai ditinggalkan. Menurutnya, situasi ini harus menjadi alarm bagi semua pihak.
“Kalau pemimpin tidak memberi teladan, bagaimana mungkin masyarakat bisa hidup damai? Upulatu dan Pati harus menjadi contoh nyata dalam menjaga persatuan,” tambahnya.
Lestarikan Warisan, Perkuat Identitas Kota Ambon
Ambon dikenal sebagai kota musik dunia dan pusat kebudayaan di Maluku. Namun perkembangan modernisasi membawa tantangan besar. Banyak nilai adat dan kearifan lokal yang tergeser oleh arus global.
Wattimena menekankan pentingnya merawat identitas Ambon melalui bahasa, seni, dan tradisi lokal. Ia mengajak generasi muda untuk kembali mencintai budaya Maluku. “Kebudayaan adalah akar. Kalau akar kita rapuh, pohon kehidupan bersama tidak akan kokoh,” katanya.
Ajakan untuk Persatuan dan Kebersamaan
Selain soal budaya, Wattimena juga menekankan pentingnya menjaga kebersamaan. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpecah oleh perbedaan. Kritik terhadap pemimpin, katanya, sah dilakukan, tetapi harus dengan cara yang baik.
“Kalau pemimpin salah, sampaikan dengan bijak. Kalau teman salah, tegur dengan cara baik. Jangan saling menjatuhkan. Ambon hanya bisa maju kalau kita sepakat membangunnya bersama,” tegasnya.
Pesan ini sejalan dengan filosofi adat Maluku pela gandong, yang menekankan persaudaraan lintas negeri dan komunitas. Filosofi tersebut menjadi modal sosial yang sudah terbukti menjaga kohesi masyarakat Maluku sejak berabad-abad.
Momentum HUT ke-450 Kota Ambon
Pengukuhan gelar adat ini menjadi momen penting menjelang HUT ke-450 Kota Ambon. Usia yang panjang bagi sebuah kota menandakan bahwa Ambon tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah berbagai tantangan sejarah.
Dengan mengangkat nilai adat dalam kepemimpinan, Ambon berupaya memastikan bahwa pembangunan kota tetap berpijak pada akar budaya. Sehingga, kemajuan modern tidak harus menghapus identitas lokal, melainkan berjalan seiringan.
Harapan ke Depan
Masyarakat berharap gelar adat yang disandang pemimpin tidak berhenti pada seremoni, melainkan benar-benar diwujudkan dalam kebijakan dan tindakan nyata. Dengan begitu, Ambon dapat menjadi kota yang maju tanpa kehilangan jati diri budaya Maluku.
Gelar Upulatu dan Pati menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya mengurus administrasi pemerintahan, tetapi juga merawat persaudaraan, menjaga perdamaian, dan melestarikan warisan leluhur.