September 27, 2026
df80866f-43a6-4350-afa9-8f0baf6bcae2

OLAHRAGA • ASIAN GAMES 2026

Lima atlet dan satu pelatih asal Maluku menjadi bagian dari perjuangan kontingen Indonesia pada Asian Games 2026.


AMBON — Panggung Asian Games selalu memiliki cara sendiri untuk menguji batas seorang atlet. Di sana, nama besar tidak cukup. Rekam jejak tidak menjamin medali. Setiap perlombaan kembali dimulai dari garis yang sama, dengan satu tujuan: memberikan yang terbaik untuk Merah Putih.

Pada Asian Games 2026, Maluku kembali menempatkan wakilnya di tengah persaingan olahraga Asia.

Lima atlet dan satu pelatih asal Maluku menjadi bagian dari perjuangan kontingen Indonesia. Mereka datang dari dua cabang olahraga, yakni dayung dan tinju, dengan pengalaman dan latar perjalanan yang berbeda.

Wakil Maluku tersebut adalah La Memo, Chelsea Corputty, Asuhan Patiiha, Isha Behuku, Michael Robert Muskitta, serta Corres Hustav Sahupalla sebagai bagian dari tim pelatih nasional dayung Indonesia.

Kehadiran keenam nama tersebut menambah panjang catatan keterlibatan putra-putri Maluku dalam perjalanan olahraga nasional.

La Memo dan Tradisi Podium

Di antara para wakil Maluku, La Memo membawa pengalaman paling panjang.

Atlet asal Pulau Osi, Seram Bagian Barat, itu telah melewati sejumlah panggung Asian Games dan kembali memperkuat Indonesia pada ajang 2026.

Perjalanan La Memo di Asian Games telah menghasilkan catatan medali yang membuat namanya menjadi salah satu atlet dayung Indonesia yang patut diperhatikan.


Dari Pulau Osi hingga panggung Asia, perjalanan La Memo menjadi bagian dari cerita panjang olahraga Maluku di pentas internasional.

Medali perak pertama diraihnya pada Asian Games XVIII Jakarta-Palembang. Pada edisi berikutnya di Hangzhou, La Memo kembali mencatatkan namanya di podium dengan medali perunggu.

Kini, perjuangan tersebut berlanjut di Jepang. La Memo kembali menjadi bagian dari perjuangan Merah Putih di lintasan rowing.

Chelsea Corputty dan Pengalaman di Lintasan

Nama lain yang tidak kalah penting adalah Chelsea Corputty.

Atlet dayung Maluku itu telah dua kali mempersembahkan medali perunggu bagi Indonesia. Prestasi tersebut diraih pada Asian Games XVIII Jakarta-Palembang dan Asian Games XIX Hangzhou.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting ketika Chelsea kembali menghadapi persaingan tingkat Asia.

Dalam olahraga dayung, kekuatan fisik bukan satu-satunya faktor penentu. Sinkronisasi gerakan, teknik, konsentrasi, dan kemampuan menjaga ritme hingga garis finis menjadi bagian penting dalam menentukan hasil pertandingan.

Empat Atlet, Empat Cerita

Selain La Memo dan Chelsea Corputty, Maluku juga menempatkan Asuhan Patiiha dan Isha Behuku di cabang dayung.

Sementara itu, Michael Robert Muskitta membawa nama Maluku dari cabang tinju.

Lima atlet tersebut berada dalam cabang olahraga dan arena pertandingan yang berbeda. Namun, mereka membawa tanggung jawab yang sama: memperkuat Indonesia di panggung olahraga Asia.

Tidak semua perjuangan atlet selalu berakhir dengan medali. Namun, setiap penampilan di arena internasional menjadi bagian dari proses panjang dalam membangun prestasi olahraga.

Mereka yang Bekerja di Balik Layar

Di balik para atlet yang tampil di arena, terdapat pula mereka yang bekerja dalam senyap.

Salah satunya adalah Corres Hustav Sahupalla, pelatih asal Maluku yang dipercaya menjadi bagian dari tim nasional dayung Indonesia.

Selain Sahupalla, terdapat Bodewin van Opstal yang selama ini turut membina La Memo dan atlet-atlet dayung Maluku lainnya.

Peran seorang pelatih sering kali tidak terlihat ketika medali dikalungkan. Namun, di balik sebuah prestasi terdapat proses latihan, evaluasi teknik, penyusunan strategi, serta pembentukan mental bertanding.

Maluku dan Panggung yang Lebih Besar

Kehadiran lima atlet dan satu pelatih Maluku di Asian Games 2026 memberikan gambaran mengenai kontribusi daerah tersebut terhadap olahraga Indonesia.

Maluku memiliki tradisi dalam melahirkan atlet yang mampu menembus kompetisi nasional maupun internasional.

Dari wilayah kepulauan, lahir atlet-atlet yang kemudian bertarung di lintasan dan arena dengan membawa nama Indonesia.

La Memo menjadi salah satu bagian dari perjalanan tersebut.


Dari Pulau Osi hingga panggung Asia, dari kayuhan dayung hingga pertarungan di atas ring — nama Maluku kembali hadir dalam perjuangan panjang Merah Putih.

POST AMBON — Berita Olahraga

About The Author

Tinggalkan Balasan

Verified by MonsterInsights