PostAmbon.com – Komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon untuk menekan angka stunting mendapat perhatian serius dari pucuk pimpinan daerah. Dalam kegiatan *Rembuk Stunting* yang digelar di Hotel Marina, Sabtu (26/7), Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, secara tegas menyatakan optimisme tinggi bahwa Kota Ambon mampu terbebas dari stunting dalam waktu yang tidak lama lagi.
“Kita optimis Ambon akan bebas dari stunting. Tapi ini bukan hanya tentang keyakinan, melainkan tentang langkah konkret yang sistematis, masif, dan terukur,” ujar Wattimena di hadapan para pemangku kepentingan lintas sektor yang hadir dalam forum tersebut.
Optimisme ini bukan tanpa alasan. Pemerintah Kota Ambon, di bawah kepemimpinan Wattimena, tengah menjalankan berbagai strategi berbasis data dan aksi nyata di lapangan. Salah satu kebijakan strategis yang kini tengah difokuskan adalah penyusunan “profil individual anak penderita stunting”. Profil ini tidak hanya mendata identitas dasar anak, tetapi menggambarkan kondisi secara menyeluruh—mulai dari status gizi, faktor penyebab stunting, kondisi lingkungan tempat tinggal, hingga pola pengasuhan di keluarga.
“Dengan adanya profil ini, kita tidak lagi bekerja berdasarkan asumsi. Kita bisa membaca akar masalah tiap anak, apakah karena gizi yang buruk, sanitasi yang tidak memadai, atau pola pengasuhan yang belum tepat. Dari situ, intervensi yang kita lakukan bisa benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan,” jelas Wattimena.
Langkah ini diperkuat dengan “perekaman data anak secara rutin setiap bulan”, yang memungkinkan pemantauan berkala terhadap perkembangan kondisi anak. Data ini akan menjadi landasan dalam pengambilan keputusan, sekaligus alat ukur efektivitas program yang berjalan.
Namun, upaya ini tidak dilakukan sendirian. Pemkot Ambon melibatkan kekuatan kolaboratif dari berbagai sektor. Mulai dari Posyandu sebagai garda terdepan layanan kesehatan ibu dan anak, para tenaga medis di lapangan, kader-kader PKK yang aktif mendampingi keluarga, hingga tokoh masyarakat yang berperan sebagai agen perubahan di lingkungan mereka.
“Kita tidak bisa mengatasi stunting hanya lewat kerja-kerja seremonial atau formalitas semata. Ini kerja bersama, kerja lintas sektor, kerja seluruh elemen masyarakat. Kita butuh semua pihak terlibat aktif. Tidak ada ruang untuk diam,” tegas Wali Kota yang dikenal vokal ini.
Wattimena juga menyampaikan bahwa pendekatan penyelesaian masalah stunting di Ambon tidak hanya berfokus pada aspek medis dan gizi, tetapi juga mencakup dimensi “pendidikan keluarga, kebersihan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi rumah tangga”. Pemkot menilai bahwa stunting merupakan persoalan multidimensi yang membutuhkan penanganan komprehensif dan berkelanjutan.
Target Pemkot Ambon dalam waktu dekat adalah menurunkan angka prevalensi stunting secara signifikan melalui program intervensi yang disesuaikan dengan kebutuhan wilayah dan karakteristik sosial masyarakat. Hal ini diharapkan menjadi titik balik menuju Ambon yang sehat, produktif, dan sejahtera.
Sebagai penutup, Wattimena mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak menjadi penonton dalam upaya ini. “Kita semua punya tanggung jawab moral terhadap masa depan anak-anak kita. Kita ingin anak-anak Ambon tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia. Dan itu harus dimulai hari ini, dimulai dari kita semua,” pungkasnya dengan nada optimis.
Catatan:
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Dampaknya bisa bersifat jangka panjang, mulai dari pertumbuhan fisik yang terhambat hingga menurunnya kemampuan kognitif. Pemerintah Indonesia menargetkan prevalensi stunting nasional turun menjadi 14 persen pada tahun 2024. Kota Ambon kini bergerak cepat untuk menjadi bagian dari keberhasilan tersebut.
