April 18, 2026
IMG-20250924-WA0119

POST AMBON – Amarah warga Desa Waiheru, Kota Ambon, meledak. Mereka menuding anggota DPRD Kota Ambon dari PKS, Rani Rahmi Ayu, tidak peka terhadap banjir yang terus menghantam kawasan Cokro. Aliansi Waiheru Bangkit (AWB) bahkan mendesak PKS segera menarik dan mengevaluasi Rani, karena dianggap gagal memperjuangkan aspirasi masyarakat yang telah mengantarkannya ke kursi dewan.

Ketua Aliansi Waiheru Bangkit (AWB), Erwin Banea, menegaskan sikap diam legislator Dapil 4 itu melukai hati konstituen. Padahal, lokasi banjir berada tepat di jalur utama yang setiap hari dilalui Rani Rahmi menuju kantor DPRD.

 

“Kalau tiap hari dia lewat sini, kok bisa tidak tahu? Apa masyarakat harus buat laporan resmi atau menelpon dulu, baru Ibu Dewan sadar?” sindir Banea, Selasa (23/09/2025).

AWB menilai Rani gagal memperjuangkan aspirasi masyarakat yang telah mengantarkannya ke kursi DPRD. Alih-alih bersuara, ia justru dianggap pasif dan tidak mampu menggunakan posisinya untuk mendorong solusi nyata.

“Waiheru adalah basis suara yang membuatnya duduk di kursi dewan, tapi kenyataannya masalah mendasar di kampungnya sendiri tidak disentuh. Dewan seperti ini belum matang,” tegas Banea.

AWB mendesak PKS segera mengevaluasi kadernya tersebut. Jika tidak mampu menjalankan amanah rakyat, menurut mereka, lebih baik Rani ditarik untuk dibina ulang.

“Jangan sampai keberadaannya hanya jadi beban tanpa solusi bagi masyarakat,” tutupnya.

Selain menyoroti kinerja individu anggota dewan, AWB juga meminta DPRD Kota Ambon dan Pemerintah Kota Ambon bertindak tegas terhadap aktivitas galian C di Waiheru. Aktivitas tambang ini dinilai menjadi salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan yang memperparah banjir di kawasan tersebut.

“Masalah banjir di Waiheru tidak bisa dibiarkan. DPRD dan Pemkot harus berani hentikan galian C ilegal yang merusak wilayah kami,” desak Banea.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Verified by MonsterInsights