April 1, 2026
Kuntasi pinjaman uang proyek dukcapil kota Ambon

Kuntasi pinjaman uang proyek dukcapil kota Ambon

POST AMBON – Sebuah proyek yang seharusnya berakhir dengan tangan-tangan pekerja yang puas, malah berujung pada kisah pilu seorang pemborong yang haknya digantung. Jody Selakau, seorang pemborong yang telah mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya, justru berhadapan dengan tembok batu ketidakjelasan dan arogansi dari pengelola proyek yang dipegang oleh Cindy Rahakbau.
Pekerjaan telah dituntaskan hingga tahap akhir, bahkan dana proyek dikabarkan oleh bagian keuangan telah dicairkan lunas. Namun, alih-alih menerima upah yang menjadi haknya, Jody malah mendapat perlakuan tak terpuji: komunikasi diputus, nomor teleponnya diblokir tanpa peringatan.
“Saya ini kerja pakai keringat, pakai air mata. Demi proyek ini jalan, saya harus berhutang sampai Rp35 juta lebih. Saya gaji pekerja dari hutang karena janji tinggal janji,” ujar Jody dengan nada getir di Rumah Kopi Rumah Tigga, Senin (16/3) sore. Beban batin Jody tak berhenti di situ. Upayanya untuk mencari keadilan melalui komunikasi langsung kandas karena nomornya diblokir oleh pihak yang berwenang membayarnya.
Sikap tak kooperatif ini semakin menjadi ketika pihak media mencoba mengonfirmasi kebenaran informasi dan menggali klarifikasi dari Cindy Rahakbau. Respons yang diberikan bukanlah penjelasan menyejukkan, melainkan ancaman dan hardikan yang menunjukkan sikap defensif dan anti-kritik.
“Jangan mengancam dengan pemberitaan media. Berita sudah banyak naik dan berulang kali,” tulis Cindy dalam pesan singkatnya, seolah-olah menganggap pertanyaan wartawan adalah bentuk pemerasan, bukan upaya penegakan keadilan dan keterbukaan informasi publik. Selasa (17/03/26)
Sikap Cindy Rahakbau ini memantik sorotan tajam dari publik. Ia dinilai lebih sibuk menutup diri dan membungkam media daripada duduk bersama membahas penyelesaian utang yang jelas-jelas telah jatuh tempo. Alih-alih membuka ruang dialog, ia memilih jalur buntu dengan memblokir pemborong dan memperingatkan media. Tindakan ini mencerminkan manajemen proyek yang buruk dan etika yang patut dipertanyakan.
Hingga berita ini diturunkan, tak ada sepatah kata pun dari Cindy Rahakbau mengenai komitmen pembayaran. Publik pun bertanya, apakah seorang pengelola proyek bisa seenaknya memutus komunikasi dan mengabaikan jeritan hati seorang pekerja yang telah berkorban demi kelancaran proyeknya? Ataukah ini adalah pola yang sengaja dibangun untuk menghindari kewajiban dengan membungkam pihak yang dirugikan?

About The Author

Tinggalkan Balasan

Verified by MonsterInsights